Senin, 06 Juni 2016

::: INFO AMAL JARIYAH : "Yuk Ikut Amal Jariyah Cukup Rp 1 Juta Untuk Asrama Santri Yatim Penghafal Al Qur'an." :::

Rumah Huffadz Tanjungpinang mengajak para dermawan untuk ikut serta membeli 3 unit rumah untuk menjadi asrama santri yatim, dhuafa dan penghafal Al Qur'an.

3 Unit rumah ini berlokasi di Km 15 Arah Uban, Samping gerbang masuk perumahan Bumi Air Raja - Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Harga 1 unit Rumah : Rp. 150.000.000,-
Total 3 unit Rumah : Rp. 450.000.000,-

Cukup Wakaf Rp 1 Juta!

Dicari 450 Dermawan untuk bersama-sama membeli 3 unit rumah tersebut dengan wakaf peorang Rp. 1.000.000,-

Untuk ikut serta dalam amal ini ketik:

IKUTWAKAF # NAMA # KOTA
Kirim ke :
081282281000

Dana wakaf dapat disalurkan ke:
BANK SYARIAH MANDIRI
No. Rek 7087777628
A.n MA'HAD HUFFADZ TANJUNGPINANG

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Insyaallah dengan Rp. 1 Juta rupiah yang kita wakafkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala dan menjadi tempat tinggal untuk anak yatim, dhuafa dan penghafal Al Qur'an.

Terlebih di bulan Ramadhan, pahala Allah lipatgandakan.

Hubungi kami:
Rumah Huffadz Tanjungpinang
Jl. Adi sucipto Km. 11
Perum Vallian Permai D1.
Tanjungpinang - Kepulauan Riau
Kontak : 081282281000

Bantu SHARE ya. Insyaallah dengan SHARE yang kita lakukan mengajak kepada kebaikan dan mendapatkan pahala yang sama dengan ikut dalam wakaf ini.

Sumber :
http://ift.tt/212bgtt


Danielle (Atheis), Bermula Dari Mempelajari Al Quran Untuk Merendahkan, Tapi Akhirnya Mendapat Hidayah: "Al Quran Mengarahkan Manusia Mengenal Penciptanya."

Assalamu'alaikum. Sejujurnya, aku tak pernah ingin menjadi Muslim. Aku juga tak pernah ingin menjadi Kristen. Tapi ternyata, Al Quran mempunyai daya tarik tertentu yang memikat intelektualku.

Dulu, sebelum tahu Islam, menurutku semua agama itu tak masuk akal. Aku lebih suka memakai otakku daripada mencari tahu di kitab-kitab tua tentang bagaimana cara menghadapi hidup.

Andai saja saat itu ada orang yang memberiku uang jutaan dolar supaya aku mau memeluk salah satu agama, pasti akan kutolak mentah-mentah.

Tapi aku masih belum puas hanya sekadar tidak beragama. Aku masih ingin membuktikan bahwa semua agama itu nonsense dan hoax saja. Aku benar-benar bertekad untuk melakukannya.

Dan sekarang di sinilah aku, seorang muslimah.

Tentu itu semua tidak tiba-tiba. Aku pun juga berikrar syahadat awal masuk Islam. Tapi uniknya, pilihanku saat itu adalah aku tak punya pilihan lain lagi. Pada dasarnya, aku dipaksa masuk Islam.

Satu hal yang menarik ketika aku berdiskusi dengan penganut agama lain selain Islam adalah, keinginan mereka untuk percaya terhadap dogma agamanya. Seberapa tidak masuk akalnya ajaran agama yang dipeluknya tersebut, mereka berusaha mengabaikannya dan terus saja percaya membabi buta tanpa berusaha mempertanyakannya.

Sebetulnya aku bukanlah tipe manusia yang terdorong untuk mencari tuhannya. Tapi bilapun aku harus melakukannya, rasanya tak mungkin aku mencari tuhan di kitab-kitab tua, di bangunan atau bahkan bertanya pada manusia.

Dulu aku selalu menganggap bahwa agama hanyalah angan-angan yang dibuat oleh manusia. Semua yang ada dalam agama tidak ada buktinya. Ketika aku membaca kitab suci, aku bukan mencari petunjuk. Aku mencari kesalahan yang pasti akan kutemukan di dalamnya. Cara ini menurutku sangat objektif untuk mempelajari agama dan membuktikan omong kosongnya.

Quran pertamaku bahkan kudapat secara gratis. Aku bahkan tidak merasa perlu mengobrol dengan mahasiswa muslim yang berdiri di dekat tumpukan Quran yang dibagikan gratis tersebut. Aku tidak tertarik berbincang dengan mereka. Aku hanya tertarik pada kitabnya untuk merendahkannya.

Aku pun membaca Al Quran tersebut. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali hingga sampul dan halamannya lecek karena terlalu sering kubuka dan kubaca, aku menjadi semakin pendiam. Ini benar-benar kitab yang berbeda dari agama lain yang pernah kubaca. Al Quran ini begitu mudah untuk kupahami dan semuanya terasa begitu jelas.

Aku bahkan bisa menjelaskan ketika ada salah satu teman yang dengan sok tahunya mengatakan bahwa tuhannya orang Islam itu pemarah dan pendendam. Tanpa sadar, aku membela tuhannya umat Islam, membuka Al Quran dan menunjukkan halamannya yang sudah sangat kuhapal dan menunjukkan padanya bagian yang mengatakan "Sungguh, Allah itu Maha Pemaaf dan Penyayang."

Ini luar biasa karena seolah-olah Quran berbicara sendiri secara langsung padaku, merespon masalah dalam hidupku. Memang ini adalah kitab tua tapi anehnya sangat relevan dengan masa kini.

    ...Membaca Al Quran, aku merasakan keindahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kitab ini begitu memahami diriku dan berbicara akrab denganku. Ini adalah kitab yang sangat sesuai untuk akal dan intelektualku...



Membaca Al Quran, aku merasakan keindahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kitab ini begitu memahami diriku dan berbicara akrab denganku. Ini adalah kitab yang sangat sesuai untuk akal dan intelektualku.

Al Quran mengajakku untuk berpikir, merenung dan mempertimbangkan segala sesuatunya. Al Quran menolak iman yang diyakini dengan buta. Sebaliknya, Al Quran mendorong manusia untuk menemukan alasan bagi segala sesuatu dan berpikir tentangnya. Al Quran mengarahkan manusia menuju kebaikan, mengenal penciptanya, dan tetap rendah hati.

Setelah beberapa lamanya aku akrab dengan Al Quran, ketertarikanku pada Islam mulai tumbuh. Aku pun berusaha membaca buku-buku lain tentang Islam. Aku mulai menemukan jalan baru untuk memulai hidup.

Dipandu oleh Al Quran, aku mengenal satu sosok agung yang hidupnya penuh keindahan akan ketaatan pada Tuhannya, Muhammad SAW. Manusia agung ini tak memiliki satu pun ciri-ciri pendusta. Setiap malam ia berdoa memintakan maaf bagi orang-orang yang membencinya dan berdoa untuk kebaikannya. Manusia agung yang menolak harta dunia dan tahta, dan mengabdikan dirinya hanya untuk penghambaan pada Allah semata.

Di sinilah aku jatuh cinta pada Islam dan terpaksa masuk Islam meskipun tak ada dalam rencana hidupku sebelumnya. Allahu Akbar! (riafariana/voa-islam.com).


Sumber:
http://ift.tt/1UtpXAL


Minggu, 05 Juni 2016

Mari Kita Bangunkan Malam Ramadhan Dengan Alaman Dan Shalat Tarawih



Kali Ini kita akan membahas Tentang Sholat Tawawih Pada Malam Ramadhan Atau Bulan Puasa.

Shalat ini dinamakan tarawih yang artinya istirahat karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan.

Adapun shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu dan shalat tarawih hanya khusus dikerjakan di bulan Ramadhan. Sedangkan shalat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di malam mana saja.

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Bahkan menurut Ahnaf, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9631)

Mari Kita Bangunkan Malam Ramadhan Dengan Alaman Dan Shalat Tarawih

Keutamaan Shalat Tarawih


Pertama, akan mendapatkan ampunan dosa yang telah lalu.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 
 “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 37 dan Muslim 759).

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290) Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)

Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya.

Lalu beliau bersabda,

 إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). 

Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.

Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.

Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)

Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari 1147 dan Muslim 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635) Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)


Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan


Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat. ‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah)

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal: Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Alasan Pertama, 

perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

Alasan Kedua, 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. …Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan Ketiga, 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

Alasan Keempat, 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan Kelima, 

Telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)


Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih

Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.

Pendapat Pertama, 

Yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua, 

Shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat. Al Kasaani mengatakan,

“‘Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”

Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.” 

Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”

‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”

Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)

Pendapat Ketiga, 

Shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat Keempat, 

shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at.

Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)

Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan.

Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.

Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat
malam yang sepuluh dan yang empat puluh.

Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272) Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini.

 Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.

Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh.

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.


Yang Paling Bagus adalah yang Panjang Bacaannya


Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah) Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas.

Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.


Salam Setiap Dua Raka’at


Para pakar fiqih berpendapat bahwa shalat tarawih dilakukan dengan salam setiap dua raka’at. Karena tarawih termasuk shalat malam. Sedangkan shalat malam dilakukan dengan dua raka’at salam dan dua raka’at salam.
Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ulama-ulama Malikiyah mengatakan,
“Dianjurkan bagi yang melaksanakan shalat tarawih untuk melakukan salam setiap dua raka’at dan dimakruhkan mengakhirkan salam hingga empat raka’at. … Yang lebih utama adalah salam setelah dua raka’at.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9640)

Istirahat Tiap Selesai Empat Raka’at


Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika melakukan istirahat. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Hambali. (Lihat Al Inshof, 3/117)

Dasar dari hal ini adalah perkataan ‘Aisyah yang menjelaskan tata cara shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ 
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.” (HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738)

Sebagai catatan penting, tidaklah disyariatkan membaca dzikir-dzikir tertentu atau do’a tertentu ketika istirahat setiap melakukan empat raka’at shalat tarawih, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian muslimin di tengah-tengah kita yang mungkin saja belum mengetahui bahwa hal ini tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/420)

Ulama-ulama Hambali mengatakan,

“Tidak mengapa jika istirahat setiap melaksanakan empat raka’at shalat tarawih ditinggalkan. Dan tidak dianjurkan membaca do’a-do’a tertentu ketika waktu istirahat tersebut karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal ini.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9639)


Surat yang Dibaca Ketika Shalat Tarawih


Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat.

Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan. Ada anjuran dari sebagian ulama semacam ulama Hanafiyah dan Hambali untuk mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dengan tujuan agar manusia dapat mendengar seluruh Al Qur’an ketika melaksanakan shalat tarawih.


Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat Tarawih


1.Menyeru Jama’ah dengan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. 

Ulama-ulama hanabilah berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9634)

2.Dzikir Jama’ah dengan Dikomandoi. 

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat mengatakan, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189).


3.Bubar Sebelum Imam Selesai Shalat Malam. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang shalat (malam) bersama imam hingga ia selesai, maka ditulis untuknya pahala melaksanakan shalat satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahih). Jika seseorang bubar terlebih dahulu sebelum imam selesai, maka dia akan kehilangan pahala yang disebutkan dalam hadits ini. Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.


Demikianlah sedikit pembahasan kita Seputar Shalat Tarawih Pada Bulan Ramadhan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayahnya kepada kita agar dapat menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan amalan lainnya. 


Sumber: http://ift.tt/1sZrOqK

Keberkahan Sahur di Bulan Ramadhan dan Niat Berpuasa

Keberkahan Sahur di Bulan Ramadhan dan Niat Berpuasa - Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan bagi siapa saja. Bukankah Allah SWT telah berfirman sedemikian rupa tentang kejelasan Tentang hukum Puasa di Bulan Ramadhan adalah Wajib. Sebelumnya mari kita bertanya, apakah itu Puasa ? dalam beberapa ayatnya Allah SWT telah menjelaskan, Bahwa berpuasa itu adalah menahan Nafsu , haus dan lapar dimulai dari Terbitnya matahari, Sampai Terbenamnya Matahari.

Keberkahan Sahur di Bulan Ramadhan dan Niat Berpuasa


Dibawah ini dijelaskan mengapa ummat Muslim disunnahkan Untuk bersahur ketika akan Menjalankan Ibadah Puasa.

Dan salah satu Hadits yang perlu kita Amalkan yang berbunyi, 

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).

Yang dimaksud Keberkahan di atas adalah, harfiahnya adalah sesuatu yang tidak pasti kita mengerti dengan baik. Karena Allah senantiasa memberikan keberkahan Kebaikan, Pahala, atau isa juga mendatangkan manfaat dunia maupun Akhirat. Ya, memang dan perlu diketahui. Bahwa hanyalah orang-orang yang beriman yang bertaqwa kepada Allah SWT, yang akan mendapatkan keberkahan tersebut.

Apa Sajakah Keberkahan Dalam Sahur ?

Salah satunya dari keberkahan sahur adalah, ketika teringan sebuah riwayat nabi yang mengatakan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya minum seteguk air, karena Allah  dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad dan dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3683)

Bacaan Doa dan Niat yang di Baca Ketika Sahur

Adapula bacaan yang wajibnya dibacakan Sebelum berpuasa , yaitu Niat Berpuasa di bulan Ramadhan. Karena segala sesuatu harus diawali dengan Niat. “Innamal A’malu Binniyat” . Dan dikarenakan dalam berpuasa membaca niat itu hukumnya Wajib. Bagi yang lupa atau belum tau. Bagaimanakah niat Berpuasa di Bulan Ramadhan ?

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالى

"Nawaitu sauma ghadin an'adai fardi syahri ramadhana hadzihisanati lillahita'ala" 

Artinya: "Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini karena Allah Taala"

Sekianlah pembahasan mengenai Keberkahan di Dalam Sahur di Bulan Ramadhan, Semoga melalui artikel ini dapat membantu, menginformasi, memotivasi para khalayak muslimin dimanapun Berada. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Lindungan Kepada kita. Dan selamat Menjalankan Ibadah Puasa. Keberkahan Sahur di Bulan Ramadhan dan Niat Berpuasa 


Jumat, 03 Juni 2016

Inilah 2 Hal Penting Yang Selalu Terlupakan Dalam Hidup



Sobat Cerita Kisah Islam yang dimuliakan oleh Allah SWT, hal benar-benar yang mesti kita pahami dan hujamkan kedalam hati bahwa kehidupan yang kita rasakan saat ini adalah merupakan ujian yang Allah berikan kepada kita. Apakah kita  gunakan hidup dalam keingkaran kepadaNya atau hidup sesuai dengan keinginan Allah SWT yakni senantiasa dalam taat beribah kepadaNya. 

Mau tidak mau atau suka tidak suka. Tempat kembali kita nanti hanya 2 saja, Yakni Surga dan Neraka. Apakah menjadi orang yang merugi atau menjadi orang yang mendapat ketenangan. Tergantung amalan yang kita lakukan didunia ini. 

Tujuan Allah menghidupkan kita hanya untuk beribadah kepadanya sesuai dengan firman Allah yang berbunyi  “ Tidak Akan Kuciptakan Jin dan Manusia Kecuali hanya Untuk beribadah kepada Ku.. (Aza zariyat : 56). Namun terkadang firman ini tidak semua orang tau bahwa tujuan hidupnya untuk apa. Bahkan yang sudah tau pun tidak mampu menerapkan apa yang firmankan oleh Alla Ta’ala.  Sungguh kemewahan dan gemerlapnya dunia telah melalaikan, sehingga kita lupa apa tujuan kita sebenarnya dalam hidup. 

Disamping itu ada 2 hal yang penting yang selalu kita lupakan dalam hidup kita. Yang senantiasa kita rasakan namun seakan kita tidak merasa bahwa itu sangat berharga. Kedua hal ini akan sangat berharga ketika kita kehilangannya. Dan penyesalannya mungkin saja tidak akan bisa terobati. Untuk itulah sobat, marilah kita jaga 2 hal tersebut agar tidak hilang dengan sia-sia. 

Rasulullah SAW bersabda : “ Ada 2 macam nikmat yang banyak dilupakan oleh manusia yaitu Nikmat kesehatan dan waktu luang ” (Hr. Bukhari)

Pentingnya kesehatan dalam hidup akan sangat berharga jika kita dalam keadaan sakit. Dan pentingnya kesempatan waktu yang luang akan sangat terasa ketika kita dalam keadaan tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Dan parahnya lagi kita tidak adalagi kesempatan untuk mengulanginya untuk yang kedua kali. 

Semoga saja ini tulisan ini dapat membuka hati kita untuk lebih mensyukuri 2 nikmat tersebut dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. (Insya Allah..)


>>>>>>>>>


Assalamu Alaikum sobat Cerita Kisah Islam semua, semoga selalu dalam keadaan sehat.
Admin ingin berbagi mengenai kesehatan. Bagi sobat yang ingin menjaga kesehatan atau mungkin mempunyai keluarga yang memiliki riwayat Kolestrol tinggi atau stroke maupun penyakit jantung. Ada baiknya menggunakan terapi Jam Tangan Kesehatan Dr. Laser.
Jam Tangan ini memiliki fungsi dan kegunaan :
1. Membantu proses penyembuhan penyakit vascular seperti Cardiovascular (Penyakit Jantung) dan Cerebrovascular (Stroke)
2. Membantu mengencerkan darah pada darah kental
3. Membantu mengatasi hipertensi / darah tinggi
4. Membantu mengurangi kadar gula berlebih dalam darah
5. Membantu menghancurkan plak kolesterol dalam darah
6. Membantu menstabilkan kondisi Jantung
7. Membantu mengatur denyut jantung
8. Melenturkan pembuluh darah

Jam tangan ini telah mendapatkan sertifikat dokter dunia. Untuk lebih jelas mengenai jam tangan ini lihat video dibawah ini.



Sobat bisa lihat pengakuan yang sudah menggunakan jam tangan ini. Lihat videonya dibawah ini :





Sobat bisa lihat pengakuan yang sudah menggunakan jam tangan ini. Lihat videonya dibawah ini :

Sembuh dari sakit kepala (migraine)
  







Sembuh dari stroke





Kebetulan saya sudah membelinya, namun saya ingin menjualnya karena butuh biaya. Saya membelinya dari gogomall dengan harga Rp. 5.300.000,- Kamu bisa cek sendiri harganya disitus resminya atau di blibli.com.

Jika sobat benar-benar membutuhkannya saya hanya menjualnya seharga Rp. 3.500.00,- keadaannya mulus dan lengkap. Jika anda berminat anda bisa pesan melalui bukalapak.com saja. Agar tidak ada kecurigaan atau penipuan. Karena situs ini merupakan situs jual beli yang aman.

Segeralah ambil langkah dari sekarang sebelum jam terapi laser ini terjual pada orang lain. Klik link berikut ini untuk melihat barangnya >>>>> https://goo.gl/vILu3O



Rabu, 01 Juni 2016

Misteri Manfaat Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat

Misteri Manfaat Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat
Tepat sekali, bagi mereka yang benar-benar menjaga imannya dan menjaga ibadahnya, Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat merupkan hal yang sangat membahagiakan. Menunggu ialah hal yang sangat membosankan, siapasih yang tidak jenuh dan bosan ketika menunggu, apalagi ketika yang ditunggu tidak kunjung datang hehehe, bete kata anak muda zaman sekarang, “Ya iya lah masa ya iya dong, udah di tungguin janjian jam 8 datengnya jam 9, bener-bener be-te nih jadinya…”, ya gitu deh, ocehan dari mulut seseorang yang jenuh dan bosan menunggu. Tetapi itu sepertinya sudah biasa terjadi, dan kita pun tentunya juga pernah merasakan menunggu.Namun, beda halnya dengan menunggu waktu sholat, karena sesungguhnya banyak tersimpan Misteri dan Manfaat Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat.

Ada lagi menunggu yang lain. Yakni menunggu kereta api yang akan lewat di perlintasan pintu rel kereta api. Pastinya jangan macam-macam untuk berani melewatinya. Baiknya kita memang menunggu, menungu sampai kereta api itu lewat dan pintu perlintasan rel kereta api di buka. Baru kita bisa melanjutkan perjalanan kembali dengan selamat. Kesal juga jadinya kalau yang lewat nggak taunya cuma kepala lokomotifnya aja, ada juga yang ngedumel “udeh lama nunggu, eh cuma kepala lokomotifnya aje yang lewat…” Kepala lokomotif kereta api itupun berlalu dengan pelannya, Tuut… tuuut… nguuung jejes jejes…

Masih banyak lagi  menunggu-menunggu yang lainnya. Dan dari sekian banyak menunggu, ingin tahu tidak? Ada sebenarnya menunggu yang tidak membuat kita bosan, jenuh, bete dan kesal, karena yang di tunggu pastilah datang, tepat waktu lagi. Dan karenanya akan ada yang sayang kepada kita.

Misteri Manfaat Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat


Tetapi kebanyakan orang jarang melakukannya untuk menunggu yang satu ini, karena kesibukan aktivitas atau karena hal lainnya. Menunggu yang ini memang bukan menunggu dalam urusan dunia, tetapi menunggu dalam urusan akhirat, Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat. Kebanyakan dari kita tidak menunggu datangnya waktu shalat, kita tidak mengalokasikan waktu yang ada untuk menunggu datangnya waktu shalat. Kita datang ke masjid/mushalla ketika adzan telah berlalu, dan kaki mulai melangkah menuju masjid ketika iqamat dikumandangkan. Dan sering juga kita datang ke masjid/mushalla ketika imam dan makmum telah selesai shalat berjama’ah. Tidak pernah kita berdiri untuk shalat berada di shaf pertamanya.

Jangan menunggu setengah atau satu jam sebelumnya, karena kita ada aktivitas lainnya, mungkin bekerja atau belajar. Kita bisa menunggu sambil melakukan aktivitas kerja atau belajar, dan ketika adzan terdengar bersegera kita untuk berangkat ke masjid/mushalla.

Tetapi ketika kita memang memiliki waktu luang, di hari libur misalnya, sesekali kita coba untuk menunggu waktu shalat itu setengah atau satu jam sebelum waktu shalat itu datang. Kita sudah berada di dalam masjid/mushalla, niatkan untuk i’tikaf sambil berdzikir atau tilawah al-Quran misalnya.

Tahu tidak? dari apa yang kita lakukan itu, dalam menunggu datangnya waktu shalat, terdapat Misteri Dan Manfaat Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat, misteri dan manfaat itu ialah ada malaikat yang senantiasa mendo’akan kita.

Dalam sebuah hadist menjelaskan:
“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendo’akannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Muslim)
Dari keterangan hadist di atas bahwa orang yang menunggu datangnya waktu shalat dalam keadaan suci akan dido’akan oleh malaikat “Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah sayangilah ia”.

Kalau malaikat yang sudah berdo’a, maka tidak ada lagi sekat penghalang untuk terkabulnya do’a itu. Dan yang akan sayang kepada kita adalah Allah Subhanahu wa ta'ala, Rabb semesta alam, yang telah menciptakan kita...aminnn...

Referensi : Buku
Keyword : Misteri Manfaat Menunggu Akan Datangnya Waktu Sholat

Kisah 70. 000 Malaikat menghalangi matahari

Ada sebuah cerita yg diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA Disuatu pagi Rasulullah SAW berbarengan dengan sahabatnya Anas bin Malik RA saksikan satu keanehan.Bagaimana tidak, matahari terlihat sekian redup dan kurang bersinar seperti umumnya.

Selang beberapa saat Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.

Lantas Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan pada Malaikat Jibril:“Wahai Jibril,mengapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup?Walaupun sesungguhnya tak mendung? ”

“Ya Rasulullah,Matahari ini tampak redup karena demikian banyak sayap sebagian malaikat yg menghalanginya.” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi:“Wahai Jibril,berapakah jumlah Malaik
at yang menghalangi matahari saat ini? ”“Ya Rasulullah,70 ribu Malaikat.” jawab Malaikat Jibril.

Kisah 70. 000 Malaikat menghalangi matahari


Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi:“Apa sangkanya yg menjadikan Malaikat menutupi Matahari? ”

Lantas Malaikat Jibril menjawab:“Ketahuilah wahai Rasulullah,sesungguhnya Allah SWT udah mengutus 70 ribu Malaikat supaya membacakan shalawat pada satu di antara umatmu. ”

“Siapakah dia,wahai Jibril? ” ajukan pertanyaan Rasulullah SAW.

“Dialah Muawiyah…!!! ”jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi:“Apa yg udah dikerjakan oleh Muawiyah hingga saat ia wafat dapatkan kemuliaan yg sekian mengagumkan ini? ”
Malaikat Jibril menjawab:“Ketahuilah wahai Rasulullah,sebenarnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al‐Ikhlas di saat malam,siang,pagi,saat duduk,saat jalan, waktu berdiri,bahkan juga dalam tiap-tiap keadaan selalu membaca Surat Al‐Ikhlas. ”
Baca Juga: Keajaiban Tulang Sulbi Yang Merekam Segala Perbuatan Manusia

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya:“Dari itu Allah SWT mengutus sebagian 70 ribu malaikat utk membacakan shalawat pada umatmu yg bernama Muawiyah itu. "
Subhanallah,sungguh besar kekuasaan Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. .....